Jumat, 23 Desember 2011

nyata

Kedatanganmu tidak pernah aku impikan.
Kehadiranmu tidak pernah aku harapkan.
Walau wujudmu hanya bayangan, walau hanya menikmati bau tubuhmu, hanya mendengar suaramu.
Tapi kamu ada.
Menyapu seluruh warasku.
Memotong kemampuan nalarku.

Sisanya tinggal rasa.
Aku mengiba dengan keadaan.
Karena itu aku tidak bisa melangkah.
Tapi kamu berkata biarkan kamu yang berlari.
Aku hanya perlu diam di tempatku.

Lalu aku ingat kalau kakimu terikat.
Bagaimana kamu bisa berlari?
Hanya tangan, mulut, dan otakmu yang bisa bergerak.
Tapi aku menurut saja.

Lama aku diam, bayanganmu tetap saja bias.
Aku memutuskan untuk berjalan menapaki jejakku yang mulai pudar.
Kamu sadari itu dan memintaku tetap diam.

Apa kamu tau diam disini rasanya lebih lelah daripada kamu yang mencoba berlari dengan kaki terikat.
Awalnya biasa saja.
Satu orang, dua orang, tiga orang, lama - lam puluhan orang menyenggol bahuku, bahkan mendorongku.
Entah sengaja atau tidak.
Aku memar.
Rasanya sakit.

Aku mencoba bertahan.
Mencari perlindungan seadanya dari apa yang ada disekitarku.
Aku bisa.
Aku temukan perlindungan.
Aku temukan cara untuk menikmati diam ini, sakit ini.

Tidak lama aku melihat entah mungkin biasmu yang mulai nyata atau halusinasiku?
Kamu tersenyum.
Tapi aku tidak suka.
Senyummu aneh.
Aku tetap membalas senyummu.
Bagaimanapun juga aku senang melihatnya.
Lalu biasmu rasanya semakin nyata.
Tapi raut wajahmu tidak seperti dalam bayanganku.
Kamu seperti marah.
Entah karena apa?
Rasanya yang aku lihat kamu ingin menyingkirkan yang menjadi perlindunganku.
Waktu aku tanya padamu kenapa, kamu jawab katanya kamu tidak bisa melihatku.
Katamu kamu tidak suka dengan itu.
Katamu kamu yang akan melindungi dan mengobati sakit serta luka yang tersisa.
Tapi aku sadar kamu hanya bias.
Tidak nyata.
Jadi bagaimana bisa?


*Aku tau harapanku terlalu timggi memintamu berlari padahal tau kondisimu.
Tapi aku mau kamu disini secepatnya.

Rabu, 21 Desember 2011

cadangan jiwa

Kini bahasaku hanya tinggal rasa.
Tak ada lagi yang bisa diucap, meski ingin itu ada.
Apa yang terlihat dan diimpikan saat ini, tak ada satupun yang terlihat jelas.
Semua samar.
Semuanya abu - abu.
Yang aku tau aku hanya ingin kembali kesana.
Tanpa mimpi yang terlalu tinggi, tanpa ingin yang terlalu menggebu.
Melihat apa yang aku sanggup.
Menjalani apa yang aku bisa.
Berlari yang walau menurut orang terseok tapi aku menyebutnya lari.
Terbang yang walau menurut orang merayap, tapi aku menyebutnya terbang.
Berhenti saat aku rasa lelah.
Tanpa perlu mendengarkan ocehan yang menyebutku lambat atau berteriak menyuruhku untuk cepat.
Diam saat aku rasa penat.
Tanpa perlu takut tertinggal, karena aku tau kapasitasku.

Mungkin hanya terlalu lelah.
Itu yang aku dapat dari hatiku.
Tapi yang aku dengar dari pikiranku, ini adalah sikap manja.
Belum lagi hati dan pikiran yang tidak satu arah.
Raga masih ingin lagi mencari - cari pelampiasan.
Menambah panjang  rentetan perang dalam diri.

Aku hanya ingin menyandarkan jiwaku yang sudah terasa sangat lelah.
Menenangkan ragaku yang sudah tidak bisa lagi menjadi cadangan untuk jiwaku.
Itu saja.
Rasanya telah lebih dari cukup.



#21 12 11 63342

Selasa, 20 Desember 2011

Do'a

Kemarin kamu memintaku mendo'akanmu.
Entah do'a seperti apa yang kamu maksud, tapi aku telah cukup paham.
Aku tidak mau melakukannya.
Padahal kamu hanya memintaku berdo'a.
Apalagi jika kamu meminta sesuatu yang berlebihan dari ya?
Tapi aku yakin kamu tahu aku tidak sesombong itu hanya untuk memberikan seuntai do'a.
Akupun tidak mau Tuhan menyebutku sombong karena tidak mau meminta.
Yang aku tidak yakin dengan do'a ini hanyalah tentang tepat atau tidaknya do'a ini diucapkan?
Aku takut do'a ini walaupun baik untukmu, untukku, untuk kita, tapi tidak menjadi baik untuk sebagian orang.
Malah menjadi Petaka untuk beberapa orang disana.
Pengertian itu ada pada dirimu. Dan itulah yang membuatku yakin padamu.
Kamu dengan hidupmu yang telah ku ketahui dan telah kupahami hiruk pikuknya.
Kamu dengan dirimu yang memang begitulah adanya, yang kuharap akan terus begitu hingga semua apa yang kita telah cita citakan tergapai.





#my mistake ......