Kedatanganmu tidak pernah aku impikan.
Kehadiranmu tidak pernah aku harapkan.
Walau wujudmu hanya bayangan, walau hanya menikmati bau tubuhmu, hanya mendengar suaramu.
Tapi kamu ada.
Menyapu seluruh warasku.
Memotong kemampuan nalarku.
Sisanya tinggal rasa.
Aku mengiba dengan keadaan.
Karena itu aku tidak bisa melangkah.
Tapi kamu berkata biarkan kamu yang berlari.
Aku hanya perlu diam di tempatku.
Lalu aku ingat kalau kakimu terikat.
Bagaimana kamu bisa berlari?
Hanya tangan, mulut, dan otakmu yang bisa bergerak.
Tapi aku menurut saja.
Lama aku diam, bayanganmu tetap saja bias.
Aku memutuskan untuk berjalan menapaki jejakku yang mulai pudar.
Kamu sadari itu dan memintaku tetap diam.
Apa kamu tau diam disini rasanya lebih lelah daripada kamu yang mencoba berlari dengan kaki terikat.
Awalnya biasa saja.
Satu orang, dua orang, tiga orang, lama - lam puluhan orang menyenggol bahuku, bahkan mendorongku.
Entah sengaja atau tidak.
Aku memar.
Rasanya sakit.
Aku mencoba bertahan.
Mencari perlindungan seadanya dari apa yang ada disekitarku.
Aku bisa.
Aku temukan perlindungan.
Aku temukan cara untuk menikmati diam ini, sakit ini.
Tidak lama aku melihat entah mungkin biasmu yang mulai nyata atau halusinasiku?
Kamu tersenyum.
Tapi aku tidak suka.
Senyummu aneh.
Aku tetap membalas senyummu.
Bagaimanapun juga aku senang melihatnya.
Lalu biasmu rasanya semakin nyata.
Tapi raut wajahmu tidak seperti dalam bayanganku.
Kamu seperti marah.
Entah karena apa?
Rasanya yang aku lihat kamu ingin menyingkirkan yang menjadi perlindunganku.
Waktu aku tanya padamu kenapa, kamu jawab katanya kamu tidak bisa melihatku.
Katamu kamu tidak suka dengan itu.
Katamu kamu yang akan melindungi dan mengobati sakit serta luka yang tersisa.
Tapi aku sadar kamu hanya bias.
Tidak nyata.
Jadi bagaimana bisa?
*Aku tau harapanku terlalu timggi memintamu berlari padahal tau kondisimu.
Tapi aku mau kamu disini secepatnya.
Kehadiranmu tidak pernah aku harapkan.
Walau wujudmu hanya bayangan, walau hanya menikmati bau tubuhmu, hanya mendengar suaramu.
Tapi kamu ada.
Menyapu seluruh warasku.
Memotong kemampuan nalarku.
Sisanya tinggal rasa.
Aku mengiba dengan keadaan.
Karena itu aku tidak bisa melangkah.
Tapi kamu berkata biarkan kamu yang berlari.
Aku hanya perlu diam di tempatku.
Lalu aku ingat kalau kakimu terikat.
Bagaimana kamu bisa berlari?
Hanya tangan, mulut, dan otakmu yang bisa bergerak.
Tapi aku menurut saja.
Lama aku diam, bayanganmu tetap saja bias.
Aku memutuskan untuk berjalan menapaki jejakku yang mulai pudar.
Kamu sadari itu dan memintaku tetap diam.
Apa kamu tau diam disini rasanya lebih lelah daripada kamu yang mencoba berlari dengan kaki terikat.
Awalnya biasa saja.
Satu orang, dua orang, tiga orang, lama - lam puluhan orang menyenggol bahuku, bahkan mendorongku.
Entah sengaja atau tidak.
Aku memar.
Rasanya sakit.
Aku mencoba bertahan.
Mencari perlindungan seadanya dari apa yang ada disekitarku.
Aku bisa.
Aku temukan perlindungan.
Aku temukan cara untuk menikmati diam ini, sakit ini.
Tidak lama aku melihat entah mungkin biasmu yang mulai nyata atau halusinasiku?
Kamu tersenyum.
Tapi aku tidak suka.
Senyummu aneh.
Aku tetap membalas senyummu.
Bagaimanapun juga aku senang melihatnya.
Lalu biasmu rasanya semakin nyata.
Tapi raut wajahmu tidak seperti dalam bayanganku.
Kamu seperti marah.
Entah karena apa?
Rasanya yang aku lihat kamu ingin menyingkirkan yang menjadi perlindunganku.
Waktu aku tanya padamu kenapa, kamu jawab katanya kamu tidak bisa melihatku.
Katamu kamu tidak suka dengan itu.
Katamu kamu yang akan melindungi dan mengobati sakit serta luka yang tersisa.
Tapi aku sadar kamu hanya bias.
Tidak nyata.
Jadi bagaimana bisa?
*Aku tau harapanku terlalu timggi memintamu berlari padahal tau kondisimu.
Tapi aku mau kamu disini secepatnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar