Hari ini aku menemukanmu lagi.
Menemukan jiwamu yang telah sekian lama hilang.
Ada sesuatu berbeda yang kulihat sekarang.
Sepertinya telah ada yang berhasil menampar hatimu.
Mewaraskan otakmu yang waktu itu aku pikir sudah harus dihancurkan.
Boleh aku tau, siapa?
Aku ingin berterimakasih pada orang atau apapun itu.
Walau kita tidak bisa lagi diperbaiki tapi setidaknya jiwamu sudah.
Jadi aku tidak perlu repot lagi memikirkan bagaimana cara menghancurkan otak bodohmu dan mencari penggantinya.
Kesadaran itu telah lama ada padaku.
Mewaraskan otakmu.
Menampar hatimu.
Tapi aku tidak punya cara selain diam.
Jadi aku tidak berhasil.
Mungkin terlalu lama berfikir.
Aku hanya memandangi ragamu.
Melihatnya mematung dihadapanku tapi hidup bagi kebanyakan orang.
Aku hanya mendengar suaramu.
Tapi tidak bisa meresapi setiap apa yang kau ucap.
Karena aku telah menganggapmu bodoh.
Yang aku pikirkan hanya bagaimana cara untuk menghidupkanmu lagi.
Hidup dihadapanku. Bukan hanya mematung.
Sekarang aku cukup senang mengetahui keadaan otakmu yang membaik.
Walau masih tidak yakin kau bisa hidup lagi untukku.
Setidaknya otak dan hatimu sudah bisa berjalan seimbang dan tegak lurus.
Tidak berat sebelah. Atau nol sama sekali.
Aku pikir itu sudah cukup.
Tolong sampaikan terimakasihku pada sesuatu yang berhasil membangunkanmu dari kebodohan hatimu ya…
Aku senang hingga gemetaran.
Terlalu senang.
....
aku mau kamu hidup juga untukku.
bukan hanya untuk mereka.
candu itu kamu, racun itupun kamu. Kmu telah menjadi keduanya untukku, tapi aku menikmatinya..
Jumat, 20 Januari 2012
Minggu, 15 Januari 2012
Hadiah dari Ayah
Ayah…
Usiaku sebentar lagi genap 23 tahun.
Tahun ini aku ingin mendapat hadiah darimu.
Sungguh – sungguh ingin.
Aku tidak pernah meminta sebelumnya kan?
Aku tidak meminta hadiah mewah atau barang mahal.
Pun engkau sanggup dan aku percaya kau akan mengusahakannya untukku.
Aku hanya ingin engkau, Ayah.
Aku ingin pelukan hangatmu.
Aku ingin kecup dan belaian lembut darimu.
Aku ingin engkau duduk disampingku.
Mengantarkanku beranjak usia.
Bercerita tentang pengalaman hidupmu.
Menceritakan perjalanan hidupku.
Aku ingin mencium tanganmu.
Boleh kan Ayah?
Kau tau tidak Yah?
Aku merindukanmu, sungguh – sungguh rindu.
Rindu ini telah bernanah, busuk, pecah, kering, terkelupas, dan bernanah lagi.
Aku ingin memelukmu.
Erat.
Sangat erat.
Tuhan..
Aku tau, aku belum menjadi manusia yang patuh sepenuhnya.
Belum menjadi seperti yang Engkau minta.
Tapi Kau lihat kan ruang kosong yang sudah kerontang ini?
Ruang yang telah terkunci lama.
Ini untuk Ayah, Tuhan…
Untuk Ayah.
Izinkan ya, Tuhan….
14 Januari 2012
Usiaku sebentar lagi genap 23 tahun.
Tahun ini aku ingin mendapat hadiah darimu.
Sungguh – sungguh ingin.
Aku tidak pernah meminta sebelumnya kan?
Aku tidak meminta hadiah mewah atau barang mahal.
Pun engkau sanggup dan aku percaya kau akan mengusahakannya untukku.
Aku hanya ingin engkau, Ayah.
Aku ingin pelukan hangatmu.
Aku ingin kecup dan belaian lembut darimu.
Aku ingin engkau duduk disampingku.
Mengantarkanku beranjak usia.
Bercerita tentang pengalaman hidupmu.
Menceritakan perjalanan hidupku.
Aku ingin mencium tanganmu.
Boleh kan Ayah?
Kau tau tidak Yah?
Aku merindukanmu, sungguh – sungguh rindu.
Rindu ini telah bernanah, busuk, pecah, kering, terkelupas, dan bernanah lagi.
Aku ingin memelukmu.
Erat.
Sangat erat.
Tuhan..
Aku tau, aku belum menjadi manusia yang patuh sepenuhnya.
Belum menjadi seperti yang Engkau minta.
Tapi Kau lihat kan ruang kosong yang sudah kerontang ini?
Ruang yang telah terkunci lama.
Ini untuk Ayah, Tuhan…
Untuk Ayah.
Izinkan ya, Tuhan….
14 Januari 2012
Rabu, 11 Januari 2012
kembali...pulang
Ketika jauh dari orang dan segala sesuatu yang kita sayangi,
rasanya kata pulang dan kembali adalah sesuatu yang paling indah untuk didengar.
Terwujud dalam mimpi saja kita bisa melonjak - lonjak kegirangan.
Menahan rindu setengah mati karena sadar keadaan tidak memungkinkan untuk pulang dan kembali.
Tapi kembali ke tempat ini...
Seperti memotong urat nadiku.
Membuatku sekarat.
Tidak lagi bersemangat mendengar kata kembali.
Melihat lagi yang sesungguhnya sangat sangat tidak ingin dilihat.
Aku melemah.
Diam menjadi pilihan terakhir.
Dan itu semakin meyakinkanku untuk sungguh memilih tak sadarkan diri daripada terdiam.
Aku semakin sekarat.
Nafasku tersengal - sengal.
Aku ingin menjauh.
Bukan kembali kesini.
Ketempat ini.
Aku sakit.
Tak tau dimana letak pasti sakit ini.
Tapi ini sungguh sakit.
Aku seperti orang sakau, over dosis, atau apalah itu.
Sakau ingin menjauh dari ini.
Over dosis melihat yang sungguh tak ingin dilihat.
........
rasanya kata pulang dan kembali adalah sesuatu yang paling indah untuk didengar.
Terwujud dalam mimpi saja kita bisa melonjak - lonjak kegirangan.
Menahan rindu setengah mati karena sadar keadaan tidak memungkinkan untuk pulang dan kembali.
Tapi kembali ke tempat ini...
Seperti memotong urat nadiku.
Membuatku sekarat.
Tidak lagi bersemangat mendengar kata kembali.
Melihat lagi yang sesungguhnya sangat sangat tidak ingin dilihat.
Aku melemah.
Diam menjadi pilihan terakhir.
Dan itu semakin meyakinkanku untuk sungguh memilih tak sadarkan diri daripada terdiam.
Aku semakin sekarat.
Nafasku tersengal - sengal.
Aku ingin menjauh.
Bukan kembali kesini.
Ketempat ini.
Aku sakit.
Tak tau dimana letak pasti sakit ini.
Tapi ini sungguh sakit.
Aku seperti orang sakau, over dosis, atau apalah itu.
Sakau ingin menjauh dari ini.
Over dosis melihat yang sungguh tak ingin dilihat.
........
Minggu, 01 Januari 2012
gunakan hati
Aku menungguimu.
Menungguimu datang dan bicara.
Sama seperti waktu itu.
Kembali penuh canda.
Berlebihan tidak?
Kita hanya sama-sama berkeras pada sesuatu yang disebut prinsip.
Padahal semua hanya teori.
Dan hati kecil kita masing-masingpun aku yakin telah mengakuinya.
Menghamba pada teori diri sendiri yang dianggap benar.
Yang dalam kehidupan sebenarnya teori itu hanya bahasa.
Hanya tulisan.
Dan hidup tidak membutuhkan itu.
Aku hanya ingin nyata.
Kamupun begitu.
Tapi hati telah beku, entah kapan mencair kembali?
Aku telah sampai di titik lelahku.
Lelah menungguimu, lelah mencarimu.
Dan aku sadar hatiku merindukanmu.
Setengah hatiku, bahkan hampir keseluruhannya mungkin telah ada padamu.
Sisanya membencimu.
Entahlah.
Mana yang harus kuikuti?
Kita ikuti?
Yang aku tau kita sama-sama tidak peduli dalam nyata, tapi hati telah saling menjerit keras.
Berusaha menarik otak manusia yang penuh dengan teori ini.
Meyakinkan agar sekali waktu hati itu HARUS digunakan.
#kapan kita mau mengalahkan teori-teori bodoh yang kita selama ini kita yakini?
Menungguimu datang dan bicara.
Sama seperti waktu itu.
Kembali penuh canda.
Berlebihan tidak?
Kita hanya sama-sama berkeras pada sesuatu yang disebut prinsip.
Padahal semua hanya teori.
Dan hati kecil kita masing-masingpun aku yakin telah mengakuinya.
Menghamba pada teori diri sendiri yang dianggap benar.
Yang dalam kehidupan sebenarnya teori itu hanya bahasa.
Hanya tulisan.
Dan hidup tidak membutuhkan itu.
Aku hanya ingin nyata.
Kamupun begitu.
Tapi hati telah beku, entah kapan mencair kembali?
Aku telah sampai di titik lelahku.
Lelah menungguimu, lelah mencarimu.
Dan aku sadar hatiku merindukanmu.
Setengah hatiku, bahkan hampir keseluruhannya mungkin telah ada padamu.
Sisanya membencimu.
Entahlah.
Mana yang harus kuikuti?
Kita ikuti?
Yang aku tau kita sama-sama tidak peduli dalam nyata, tapi hati telah saling menjerit keras.
Berusaha menarik otak manusia yang penuh dengan teori ini.
Meyakinkan agar sekali waktu hati itu HARUS digunakan.
#kapan kita mau mengalahkan teori-teori bodoh yang kita selama ini kita yakini?
Langganan:
Postingan (Atom)
